CAMBRA, Metode untuk Deteksi Gigi Berlubang

TANYA  :

Dok, saya pernah mendengar mengenai CAMBRA untuk mendeteksi gigi berlubang dari dokter gigi saya. Apakah ada penjelasan mengenai hal itu?

(Dita, 20, Surabaya)

JAWAB:

Hai Dita, menarik sekali pertanyaannya.

CAMBRA merupakan singkatan dari Caries Management by Risk Assessment, adalah sebuah metode untuk mencegah atau merawat lubang gigi pada tahap awal berdasarkan penilaian faktor resiko gigi berlubang. Metode CAMBRA pertama kali diperkenalkan sepuluh tahun yang lalu oleh organisasi CAMBRA Barat di Amerika Serikat.

Dasar filosofi CAMBRA adalah penilaian berdasarkan indikator penyakit gigi berlubang setiap pasien, faktor-faktor resiko dan pelindung mengenai terjadinya gigi berlubang pada saat ini dan masa yang akan datang.

Indikator penyakit gigi berlubang pada setiap pasien dinilai melalui tanya jawab langsung ke pasien dan pemeriksaan klinis. Berbagai metode terbaru untuk melakukan pemeriksaan klinis gigi berlubang, antara lain melalui metode laser, transluminasi serat optik, serta refleksi dan refraksi LED.

Faktor resiko gigi berlubang didefinisikan sebagai alasan biologis yang menyebabkan atau memicu penyakit gigi berlubang pada saat ini dan masa yang akan datang. Berikut 9 faktor biologis yang dapat memicu penyakit gigi berlubang, yang dinilai dalam metode CAMBRA terhadap pasien:

1.    Jumlah bakteri asidogenik dan asidurik di dalam air liur
2.    Plak yang berlebihan pada gigi
3.    Terlalu sering mengkonsumsi camilan (> 3x diantara dua waktu makan utama)
4.    Pit dan fisur gigi yang dalam
5.    Penggunaan obat-obatan rekreasional
6.    Kurangnya aliran air liur
7.    Adanya faktor-faktor pengurang aliran air liur (obat-obatan, radiasi, dan penyakit sistemik)
8.    Akar gigi yang terbuka
9.    Penggunaan alat ortodontik

Sedangkan faktor pelindung terjadinya gigi berlubang didefinisikan sebagai faktor biologis atau terapeutik yang dapat digunakan untuk mencegah penyakit gigi berlubang. Faktor-faktor tersebut termasuk:

1.    Mengkonsumsi air minum yang terfluoridasi
2.    Penggunaan pasta gigi berfluoride secara rutin 1-2x sehari
3.    Penggunaan obat kumur yang mengandung fluor dengan kadar rendah (0,05 NaF) setiap hari
4.    Aplikasi fluor topikal minimal 6 bulan sekali
5.    Penggunaan obat kumur klorheksidin selama 1 minggu setiap bulan
6.    Memiliki aliran air ludah yang cukup

Setelah seluruh penilaian kepada pasien dilakukan, Dokter Gigi akan merencanakan perawatan sesuai hasil penilaian tersebut, misalnya memperbaiki kebiasaan pasien dalam merawat giginya, melakukan penambalan pit dan fisur pada gigi, dan sebagainya. Jika seluruh filosofi CAMBRA berhasil diterapkan kepada pasien, maka kesehatan gigi dan mulut-pun lebih optimal.

Demikian Dita, semoga informasinya dapat menjadi referensi bagi anda.

Salam gigi sehat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *