Beranda » Artikel » Pilih Dokter Gigi atau Tukang Gigi untuk Pasang Behel? Ini Bedanya!

Pilih Dokter Gigi atau Tukang Gigi untuk Pasang Behel? Ini Bedanya!

Juni 6, 2015

klinik gigi dokter gigiBanyaknya permintaan pemasangan kawat gigi behel tak hanya memperbanyak pasien dokter gigi, tukang gigi di pinggiran jalan pun kebanjiran order. Sejatinya, profesi tukang gigi adalah profesi yang legal dan dilindungi oleh kementerian kesehatan.

Berdasarkan pada Permenkes no.39 tahun 2014 tentang Pembinaan, Pengawasan, dan Perizinan tukang gigi, tugas dan kewenangan tukang gigi adalah:

  1. Memasang gigi tiruan lepasan dan/atau penuh yang terbuat dari bahan heat curing acrylic dengan tidak menutupi sisa akar gigi.
  2. Membuat gigi tiruan lepasan dan/atau penuh yang terbuat dari bahan heat curing acrylic yang memenuhi ketentuan persyaratan kesehatan.

Jadi, tugas legal tukang gigi seharusnya hanya sebatas pada pembuatan gigi tiruan lepasan yang sederhana. Namun pada kenyataan nya, banyak sekali oknum tukang gigi yang ‘melebarkan’ sayap nya dengan membuka praktik pemasangan behel. Mengikuti prinsip ada gula ada semut, ketika permintaan meningkat, maka bermunculan lah praktik pasang behel oleh tukang gigi. Apakah legal? Tentu saja tidak. Tapi tetap saja banyak peminat behel hasil pengerjaan tukang gigi. Untuk mengetahui lebih dalam lagi, mari kita bahas perbedaan pasang behel di dokter gigi dan tukang gigi.

Berikut adalah perbedaan pasang behel di dokter gigi dan di tukang gigi:

  1. Pendidikan yang ditempuh
    Calon dokter gigi harus menempuh pendidikan kedokteran gigi yang berat selama 4 tahun di fakultas kedokteran gigi, kemudian dilanjutkan koass selama 2 tahun. Setelah 6 tahun menempuh pendidikan, baru kemudian lulus menjadi dokter gigi umum. Resmi menjadi dokter umum, perjalanan belum selesai. Dokter gigi tersebut harus menempuh pendidikan dokter gigi spesialis selama 4 tahun untuk menjadi dokter spesialis ortodonti.Total pendidikan selama 10 tahun, baru kemudian memiliki kualifikasi untuk memasang behel.Sementara ilmu yang tukang gigi dapat kan biasa nya dari ilmu turun temurun atau ilmu yang diajarkan dalam kursus/seminar singkat lengkap dengan sertifikat yang diberikan ketika selesai kursus. Bahkan ada pula oknum tukang gigi yang mendapatkan ilmu secara otodidak, belajar sendiri berdasarkan video yang beredar di youtube ataupun hasil coba-coba.Tentu saja, ilmu yang dipelajari terbatas pada bagaimana cara memasang behel. Tanpa mempelajari kaidah perhitungan pergeseran gigi, penyakit mulut atau penyakit komorbid yang mungkin menyertai pasien, bahkan kebersihan & kesehatan gigi dan gusi.
  2. Tempat Praktik
    Untuk dapat membuka praktik, seorang dokter gigi harus mendapatkan ijin dari dinas kesehatan setempat. Dokter gigi juga harus terdaftar di Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) sesuai dengan kota/kabupaten tempat berpraktik nya. Ruang praktik harus memiliki hygene dan sanitasi yang baik, kualitas air yang standar dan teruji, serta uji kelayakan bangunan.Setiap ruangan harus dilengkapi dengan kursi gigi dan peralatan praktik kedokteran gigi yang standar. Sebagian besar klinik gigi bahkan berlomba – lomba untuk menyajikan pelayanan dengan teknologi terbaru yang semakin canggih.
    tempat praktik dokter gigi canggih
    Tukang gigi yang sudah cukup berkembang biasa nya memiliki ruangan untuk berpraktik dengan kursi gigi sehingga cukup meyakinkan. Namun, tentu saja, alat yang digunakan tidak akan selengkap dokter gigi. Sebagian besar tukang gigi berpraktik di sebuah ruangan hanya dengan berbekal meja/kursi dan pencahayaan secukup nya.Bahkan ada juga yang berpraktik secara berpindah tempat / sesuai panggilan. Mereka ini sering disebut dengan tukang gigi keliling. Berbicara soal ijin, beberapa oknum tukang gigi mengantongi ijin SIUP dari dinas pariwisata dengan dalih sebagai salon, beberapa yang lain mengantongi sertifikat dari lembaga kursus / perorangan yang ‘meluluskan’ mereka menjadi ‘ahli behel’.

    Kunjungi Juga Youtube dan Instagram Joy Dental untuk update informasi, tips & trik menjaga kesehatan gigi.

  3. Metode Pemasangan Behel
    Ketika memasang behel di dokter gigi spesialis ortodonsia, pasien diharuskan untuk membuat inform consent sebelum mulai prosedur pemasangan behel. Inform Consent adalah sebuah surat persetujuan yang menjelaskan dimana pasien memang berniat memasang behel. Inform consent menjadi bukti komitmen antara pasien dan dokter gigi, karena memasang behel membutuhkan proses yang sangat panjang dan komitmen bersama antara pasien dengan dokter yang merawat. Sebelum proses pemasangan, pasien harus melakukan rongsen gigi terlebih dahulu, agar dokter dapat mengetahui kondisi gigi pasien lebih jelas lagi. Gigi harus dipastikan bersih dari karang gigi dan sisa makanan.Kondisi gigi yang belum sempurna harus diperbaiki terlebih dahulu. Ditambal apabila ada gigi yang berlubang, dan dicabut apabila diperlukan tindakan pencabutan. Setelah gigi sudah dalam keadaan yang baik, baru kemudian behel dapat dipasang, sesuai dengan kebutuhan masing-masing pasien. Dari mulai pertama kali datang, membutuhkan kurang lebih 2 sampai 3 kali pertemuan dengan dokter (bisa lebih apabila kondisi gigi pasien memiliki banyak masalah), hingga akhir nya behel dapat dipasang di mulut pasien.Ketika anda memasang di tukang gigi, biasa nya anda akan ditanyakan jenis behel yang diinginkan. Apakah anda menginginkan behel fashion, behel perawatan, ataukah behel lepas-pasang.Beberapa tukang gigi mungkin akan menanyakan anda akan memasang di rahang atas saja, atau rahang bawah saja.  Kemudian, anda akan langsung diminta memilih warna butir behel dan warna karet yang diinginkan. Pun perihal karet, anda akan diminta memilih menghendaki karet yang biasa atau power O.Setelah pilihan disesuaikan dengan selera anda, tukang gigi tersebut akan langsung memasangkan behel di mulut anda. Bagaimana dengan kondisi gigi anda? Tentu tidak jadi masalah apapun kondisi nya bagi para tetukang. Selama anda memiliki gigi, maka behel dapat langsung dipasang.
  4. Waktu Kontrol
    Waktu kontrol pasien behel yang ditangani dokter gigi berbeda-beda, bergantung pada kondisi gigi dan jenis behel yang dipilih. Pasien behel yang menggunakan behel konvensional, rata-rata melakukan kontrol setiap 1 bulan sekali. Sedangkan pasien behel yang menggunakan behel self-ligating rata-rata melakukan kontrol setiap 2 bulan sekali. Setiap kontrol, arah pergerakan dan kondisi gigi akan di periksa. Pun tindakan yang dilakukan berbeda-beda, bergantung pada kondisi gigi pasien dan tahap pengerjaan behel.Bisa jadi dilakukan tindakan retraksi, atau melakukan space closing, atau bisa melakukan tindakan rebonding.Ketika anda memasang behel di tukang gigi, biasa nya pertemuan hanya dilakukan satu kali. Yaitu pada saat pemasangan behel. Pada hari itu juga, pasien akan diajari langsung bagaimana cara memasang dan melepas kembali behel tersebut sesuai dengan keinginan pasien. Pada beberapa tukang gigi, pasien akan dijadalwalkan untuk melakukan kontrol kembali, dengan keperluan mengganti warna karet.
  5. Harga
    Harga pemasangan behel di dokter gigi cukup mahal mulai dari jutaan hingga puluhan juta, bergantung pada jenis behel yang dipilih. Yang paling murah di mulai dengan varian behel konvensional dengan bahan metal, di atas nya lagi ada behel self ligating, hingga clear aligner dengan harga yang cukup fantastis. Setelah behel terpasang, pasien juga harus menanggung biaya untuk setiap tindakan yang dilakukan pada saat kontrol.Tindakan pada saat kontrol bermacam-macam, seperti penggantian butir behel yang hilang, penggantian kawat, dan lain sebagai nya.Belum lagi biaya rontgen ataupun biaya untuk tindakan bedah mulut apabila diperlukan. Seperti yang sudah disebutkan pada poin sebelumnya, dibutuhkan komitmen yang cukup kuat dari pasien behel, agar hasil akhir nya maksimal.Harga pemasangan behel di tukang gigi terbilang sangat murah. Harga mulai dari puluhan ribu rupiah saja. Tidak ada biaya administrasi, biaya rontgen, ataupun tindakan pendahulu seperti scaling / cabut gigi. Memang ada juga tukang behel yang mematok harga hingga jutaan rupiah, bahkan ada juga yang menawarkan behel jenis aligner yang disebutkan berasal dari Amerika. Diluar dari harga behel nya sendiri, seperti dijelaskan sebelum nya, rata-rata tukang behel tidak meminta anda untuk melakukan kontrol rutin, sehingga tidak ada biaya kontrol yang anda tanggung.

Demikian sedikit perbedaan memasang behel di dokter gigi dan di tukang gigi. Memakai behel di dokter gigi memang proses untuk mendapatkan gigi lurus dan rapi lebih lama dibanding dengan yang dijanjikan tukang gigi. Namun hal tersebut karena sudah diperhitungkan dengan ilmu yang para dokter dapatkan selama mengenyam pendidikan

Nah, semuanya tergantung kepercayaan pasien. Apakah mau ditangani oleh dokter atau tukang gigi. Memilih untuk menggunakan jasa Dokter gigi dengan ilmu yang didapatnya selama kuliah hingga mengambil spesialis orto, atau tukang gigi yang mempelajari ilmu tentang gigi dengan mengikuti kursus dan seminar gigi.

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram