Beranda » Artikel » Kenapa Gigi Tidak Tumbuh? Jangan Khawatir, Ketahui Penyebabnya!

Kenapa Gigi Tidak Tumbuh? Jangan Khawatir, Ketahui Penyebabnya!

Januari 8, 2023

Klinik Gigi Joy Dental, Yogyakarta - Senyum dengan gigi ompong mungkin kerap kita temui pada anak-anak, karena gigi susu satu persatu memang akan tanggal pada waktunya. Gigi permanen akan tumbuh menggantikan semua gigi susu. Lalu bagaimana jika gigi tidak kunjung tumbuh? Kenapa gigi tidak tumbuh? Simak penjelasannya sampai selesai ya!

Mengapa Gigi Tidak Tumbuh

Secara umum terdapat 2 alasan mengapa gigi tidak tumbuh. Pertama, karena benih gigi memang tidak ada. Kedua, gigi mengalami halangan untuk tumbuh. Apabila setelah diobservasi mandiri, gigi tidak kunjung tumbuh dalam periode waktu yang cukup lama, maka sebaiknya periksakan kondisi tersebut ke dokter gigi. 

Dokter gigi akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan merujuk foto rontgen (dengan sinar x-ray) untuk melihat ketersediaan benih gigi tersebut. Tidak perlu khawatir, pengambilan foto rontgen telah memenuhi standar prosedur, sehingga dosis paparan yang diterima aman atau sangat kecil/minimal. 

Pada pemeriksaan foto rontgen panoramic (OPG), seluruh benih gigi di dalam gusi maupun tulang dapat terlihat secara menyeluruh. Sehingga pemeriksaan penunjang ini dapat menjadi alat observasi yang sangat berguna.

Apabila hasil foto rontgen menunjukkan benih gigi tersebut ada, namun gigi tersebut tidak tumbuh pada periode waktunya, artinya ada penghalang yang menyebabkan gigi tersebut terhambat untuk tumbuh atau erupsi. 

Mengenal penyebab kenapa gigi tidak tumbuh, Sumber: gelarsramdhani.com
Mengenal penyebab kenapa gigi tidak tumbuh, Sumber: gelarsramdhani.com

Jika benih gigi sebenarnya ada, namun tidak kunjung tumbuh maka perawatannya tergantung dari penyebab masing-masing kasus. Ada berbagai macam penyebab gigi tidak tumbuh meskipun benih giginya berkembang, yaitu:

1. Impaksi dan Kekurangan Ruang Pada Rahang

Apabila ruang yang tersedia lebih kecil dari ukuran gigi yang akan tumbuh, artinya gigi tersebut mengalami impaksi atau “tersangkut” sehingga terhambat untuk tumbuh. Gigi susu mempunyai fungsi mempersiapkan ruang serta jalur untuk gigi permanennya tumbuh. 

Jika gigi susu berlubang besar atau rusak sehingga dicabut, maka hal ini dapat menyebabkan kekurangan ruang. Kekurangan ruang dapat menyebabkan gigi permanennya tidak tumbuh. Jika pada kasus lain gigi dapat diobservasi sampai tumbuh, maka pada kasus ini gigi yang impaksi tersebut membutuhkan tindakan pembedahan agar dapat dibantu untuk keluar.

2. Kondisi Dental

Infeksi, deformitas, cidera, serta masalah di sekitar rongga mulut dan rahang dapat mempengaruhi tumbuhnya gigi.

3. Genetik

Orang tua yang mengalami keterlambatan gigi tumbuh saat kecil, besar kemungkinannya menurunkan kondisi tersebut ke anak.

4. Malnutrisi

Ketika kekurangan nutrisi, anak dapat mempunyai kecenderungan terlambat dalam proses tumbuh kembangnya, termasuk perkembangan benih gigi. 

5. Gangguan Tumbuh Kembang

Penyakit seperti hypopituitarism, sindrom Down dapat mempengaruhi perkembangan fisik dan memperlambat tumbuhnya gigi.

6. Prematur atau Bayi dengan Berat Badan Kurang

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bayi prematur dan bayi dengan berat badan yang kurang berisiko lebih tinggi mengalami keterlambatan erupsi.

Kondisi Kehilangan Benih Gigi

Kondisi dimana gigi tidak tumbuh karena kehilangan benih gigi disebut agenesis. Kondisi ini dapat terjadi dengan absennya 1 gigi, beberapa gigi, hingga seluruh gigi. Artinya, benih gigi permanen tersebut memang tidak berkembang, sehingga tidak tumbuh. 

Hal ini merupakan kelainan kongenital, sehingga berbeda dengan kasus kehilangan gigi karena dicabut atau trauma. Normalnya, anak memiliki gigi susu lengkap saat berusia 2-3 tahun. Sedangkan gigi permanen lengkap menggantikan gigi susu saat berusia 12-14 tahun.

Kondisi agenesis dapat terjadi pada gigi susu maupun gigi permanen, namun sebagian besar kasus terjadi pada gigi permanen dewasa. Ada 3 macam tipe agenesis, yaitu:

  • Anodontia: Tidak ada benih gigi yang berkembang.
  • Hypodontia: Kehilangan 1-6 benih gigi.
  • Oligodontia: Kehilangan >6 benih gigi.

Kondisi kehilangan benih gigi merupakan kelainan kongenital yang disebabkan oleh genetik. Sebagian besar kasus memiliki tipe hypodontia. Kondisi hypodontia dapat pula menjadi salah satu bentuk atau tanda dari penyakit tumbuh kembang anak-anak seperti sindrom Down, ectodermal dysplasia, bibir sumbing (cleft palate), Van der Woude syndrome, cleidocranial dysplasia, dll. 

Apabila kondisi hypodontia merupakan bentuk dari penyakit genetik lain, biasanya terjadi kelainan pada pada bagian tubuh lain seperti rahang, lidah, mulut, maupun wajah, dll. Gigi tidak tumbuh dapat membuat tampilan ompong saat tersenyum. 

Tentu kondisi tersebut dapat mempengaruhi kepercayaan diri dan psikologis. Namun, selain dapat mempengaruhi secara psikologis, kondisi ini juga dapat mengganggu efektivitas pengunyahan, mengganggu atau menurunkan fungsi bicara, hingga fungsi lain yang dapat mempengaruhi kualitas hidup.

Cara Mengatasi Gigi Tidak Tumbuh

“Bisakah kehilangan benih gigi dicegah?” Sayang sekali, karena gangguan pertumbuhan gigi ini adalah kelainan genetik maka kondisi ini tidak dapat dicegah. Namun, Sobat Joy dapat memeriksa jumlah gigi dan bentuk gigi untuk observasi mandiri di rumah. Menurut studi, elemen gigi yang paling banyak hilang benihnya, yaitu:

  • Gigi geraham kecil kedua rahang bawah (gigi yang terletak di depan gigi geraham bawah).
  • Gigi geraham kecil kedua rahang atas (gigi yang terletak di depan gigi geraham atas).
  • Gigi depan kedua atas (gigi depan atas yang lebih kecil pada kedua sisi).

Ketiga gigi tersebut adalah elemen gigi yang secara statistik paling sering mengalami kehilangan benih, ya Sobat Joy. Namun, tidak menutup kemungkinan kehilangan benih gigi terjadi pada elemen gigi lain.

Apabila hasil pemeriksaaan mengkonfirmasi bahwa benih gigi tidak ada atau tidak berkembang, maka ada beberapa opsi perawatan yang dapat dilakukan, yaitu:

1. Mengubah Bentuk Gigi Susu/ Veneer Gigi Susu

Pemeriksaan gigi sejak kecil memungkinkan diagnosis kondisi hypodontia sejak dini. Apabila gigi permanen memang tidak ada benihnya, maka gigi susu dapat diupayakan agar dipertahankan hingga dewasa. 

Namun, terdapat perbedaan bentuk dan warna antara gigi susu dan gigi permanen. Untuk mengubah bentuk gigi susu, dibutuhkan penambalan atau penumpatan pada gigi (veneer). Gigi susu tidak dicabut melainkan dipertahankan serta dibentuk agar tampak seperti gigi permanen.

Melakukan veneer gigi, Sumber: health.detik.com
Melakukan veneer gigi, Sumber: health.detik.com

2. Menggunakan Gigi Palsu

Selain untuk kepentingan estetis, peran gigi palsu penting untuk menggantikan fungsi gigi yang tidak tumbuh serta merapatkan jarak antar gigi. Banyak persepsi orang awam yang merasa gigi palsu lepasan tampak seperti orang tua, padahal pilihan gigi palsu dapat disesuaikan sesuai situasi dan kondisi masing-masing pasien. 

Banyak pilihan jenis gigi palsu yang dapat digunakan, yakni diantaranya meliputi:

  • Gigi palsu lepasan. Pemasangan gigi palsu yang dapat dilepas dan dipasang sendiri oleh pasien.
  • Dental bridge/gigi palsu cekat. Gigi palsu yang dipasangkan pada gigi asli.
  • Implant gigi dilakukan dengan cara memasukkan logam ke dalam tulang agar tertanam. dapat dipasang gigi dengan berbagai macam pilihan bahan. 
Penggunaan gigi palsu, Sumber: anlene.com
Penggunaan gigi palsu, Sumber: anlene.com

3. Perawatan Ortodontik

Perawatan ortodontik dengan menggunakan kawat gigi dapat merapatkan posisi gigi yang renggang sehingga tidak memerlukan gigi palsu. Perawatan ini juga dapat sekaligus merapikan posisi gigi dan gigitan, apabila ada posisi gigi yang berantakan maupun gigitan yang tidak normal.

Melakukan perawatan ortodontik, Sumber: alomedika.com
Melakukan perawatan ortodontik, Sumber: alomedika.com

Nah, itulah pilihan perawatan yang dapat dipilih untuk kasus kehilangan gigi. Tentu saja masing-masing kasus berbeda kondisi dan solusi perawatannya. Untuk itu, periksakan dahulu ke klinik gigi terdekat agar dokter gigi dapat memeriksa dan melakukan perawatan terbaik untuk Sobat Joy!

Penulis : drg. Berilla Silsila Surbakti

Referensi:

Al-Ani, Azza Husam et al. “Hypodontia: An Update on Its Etiology, Classification, and Clinical Management.” BioMed research international vol. 2017 (2017): 9378325.

Alshukairi H. Delayed tooth eruption and its pathogenesis in paediatric patient B: a review. J Dent Health Oral Disord Ther. 2019;10(3):209-212.

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram