Perbaiki Kelainan Rahang Sebelum Pubertas

Bagikan artikel ini

Kelainan rahang yang menyebabkan susunan gigi geligi tidak rata atau maloklusi bukan hanya dapat menyebabkan gangguan estetika, tetapi juga gangguan dalam pergerakan rahang. Maloklusi ini sebaiknya dikoreksi sebelum anak memasuki usia pubertas.

Keuntungan perawatan ortodonti (meratakan gigi) pada usia remaja adalah bisa dilakukan modifikasi dengan alat-alat ortopedik untuk menarik rahang, sehingga tidak diperlukan pencabutan gigi sehingga perawatannya menjadi lebih singkat.

“Kelainan yang mengenai rahang atau skeletal biasanya disebabkan karena faktor keturunan. Pada kondisi ini, penggunaan kawat gigi tidak banyak membantu karena kawat gigi hanya memperbaiki keadaan gigi. Padahal kelainan itu disebabkan karena bentuk rahangnya,” papar drg.Amilia Jeni Susanto seusai promosi doktor di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Selasa (10/1) di Jakarta.

Amelia meraih gelar doktor dengan yudisium memuaskan di bawah bimbingan promotor Dr.Miesje K.Purwanegara, drg, Sp.Ort(K) dan kopromotor Prof. Dr. Tri Budi W. Rahardjo, drg.

Dalam disertasinya, Amilia memaparkan keuntungan menjalani perawatan ortodonti pada remaja yang belum masuk masa pubertal growth spurt (PGS). Bila perawatan dilakukan pada masa sekitar PGS akan memberi hasil yang baik. Penilaian apakah PGS anak sudah dimulai atau belum bisa dilakukan dengan mengukur tinggi dan berat badan anak serta menilai tahap maturasi rahang dengan indeks maturasi vertebrata.

Penelitian dilakukan pada 218 remaja di sekitar daerah Jakarta. Semua subyek penelitian adalah remaja dengna gizi baik, belum pernah melakukan perawatan ortodonti dan memiliki maloklusi tingkat 1. Hasil penelitian menunjukkan penilaian maturasi vertebrata servikal bisa menggantikan penilaian maturasi tulang karpal sehingga dokter bisa melakukan perawatan ortodonti meski pasien tidak melakukan foto rontgen.

“Sebenarnya tanpa foto rontgen, hanya dengan melihat profil wajah serta pengukuran tinggi dan berat badan anak sudah bisa dinilai. Namun untuk mengetahui keparahan kelainan rahang memang sebaiknya dirontgen,” papar Amelia yang menjadi koordinator Pelayanan Medik Departemen Gigi dan Mulut Rumah Sakit Ciptomangunkusumo (RSCM) Jakarta.


Bagikan artikel ini

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca juga artikel ini . . . .close