Pakar Sebut Kewaspadaan Seputar Penyakit Bersumber Rokok Masih Rendah

Bagikan artikel ini

3078a710-8ba1-442d-a156-7c2cb695fbe1_169Jakarta, Rokok sudah dipastikan mengandung lebih dari 4.000 bahan beracun yang tidak baik untuk kesehatan. Namun sayangnya, masyarakat masih belum mewaspadai bahwa rokok merupakan sumber beberapa penyakit mematikan.

Pakar kesehatan masyarakat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Prof Hasbullah Thabrany, mengatakan urgensi untuk mendorong kewaspadaan penyakit parah yang bersumber rokok masih rendah. Sebab masih banyak masyarakat yang melihat kematian seseorang dari penyebab terdekatnya saja.

“Itu disebutnya proximal cause. Seperti orang meninggal karena penyakit jantung atau karena kanker, ya yang dilihat penyebab terdekatnya, karena jantung bermasalah atau tumor. Padahal penyebab penyakit jantung serta tumor itu sangat erat dengan kebiasaan merokok yang dilakukan seseorang,” tutur Prof Hasbullah, ditemui detikHealth di FKM UI, Depok, seperti ditulis Minggu (26/7/2015).

Dijelaskan Prof Hasbullah bahwa berbagai penelitian sudah membuktikan bahwa kebiasaan merokok dapat menyebabkan penyakit jantung atau kanker. Namun karena gejalanya yang timbul lambat dan bertahun-tahun, sangat sedikit yang menyadari hal tersebut.

Terlebih, solidaritas sosial masyarakat Indonesia juga terbilang rendah. Beberapa kelompok sosial seperti komunitas penyandang kanker atau penyakit jantung cenderung bergerak sendiri-sendiri.

“Padahal seharusnya bisa mereka bersama-sama mengampanyekan soal bahaya merokok. Tapi masyarakat kita masih egois, kesadaran sosial masih rendah jadinya belum sampai ke situ,” tuturnya.

Jika kesadaran sosial masyarakat tinggi, tentunya akan muncul urgensi soal bahaya rokok. Urgensi tersebut akan membuat kewaspadaan soal rokok meningkat, termasuk soal pengaturan penjualan rokok, iklan hingga penetapan cukai.

Prof Hasbullah mengambil contoh soal wacana kenaikan cukai rokok. Jika cukai rokok dinaikkan, tentunya harga rokok akan meningkat, dan pendapatan yang diterima negara akan jauh lebih besar.

Namun perbedaan persepsi membuat wacana tersebut mengalami kendala. Beberapa pihak, termasuk pihak Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian, menurut Prof Hasbullah masih salah paham. Mereka menyebut bahwa dengan harga rokok yang tinggi, persentase penjualan akan berkurang dan pendapatan dari rokok akan turun.

“Padahal kan tidak seperti itu. Memang kalau cukai dinaikkan pembeli rokok yang tadinya 100 misalnya, akan berkurang menjadi 95 atau 90. Namun kan cukainya jauh lebih besar daripada sebelumnya. Penurunan penjualan tadi akan tertutup dengan pemasukan dari cukai yang meningkat, karena cukainya lebih besar,” tandasnya lagi.

Oleh karena itu penting bagi masyarakat untuk mewaspadai soal bahaya rokok. Dengan meningkatnya urgensi dari masyarakat, maka pembuata kebijakan, dalam hal ini Dewan Perwakilan Rakyat serta Presiden, akan merasa perlu mengambil tindakan.

“Tujuannya adalah urgensi untuk meratifikasi FCTC (Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau). Jika dari masyarakat sudah sama perspektifnya soal bahaya rokok, maka pemerintah dan DPR tentunya akan menganggap FCTC perlu diratifikasi,” pungkasnya.


Bagikan artikel ini

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca juga artikel ini . . . .close