Ini Alasan Lima Mahasiswa UGM Ciptakan Gel Penyembuh Luka Cabut Gigi

Bagikan artikel ini

Yogyakarta, Untuk menciptakan inovasi, mungkin memang diperlukan tak hanya kreativitas tapi juga sedikit nekat. Di tengah jadwal kuliah dan KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang padat, lima mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada ini mau repot-repot membuat obat untuk penyembuhan luka cabut gigi yang dinamakan Spidweb Gel.

Apa alasannya? “Sebenarnya kami prihatin karena menurut riset Kemenkes, 90 persen orang Indonesia punya karies gigi, 60 persen juga mengalami penyakit periodontal dan hanya 7 persen yang benar-benar melakukan perawatan gigi dengan baik,” tandas salah satu anggota tim, Choirunisa Nur Humairo kepada detikHealth di lokasi karantina mereka sebelum berangkat ke PIMNAS 2014 dan ditulis Jumat (22/8/2014).

Gadis yang akrab disapa Nisa itu menambahkan tak banyak orang Indonesia yang rutin mengecek giginya setiap enam bulan sekali ke dokter gigi. Bahkan masih banyak yang jarang sikat gigi atau menyikat gigi dengan cara yang keliru.

“Mungkin yang disikat yang depan saja, sedangkan yang belakang tidak. Padahal yang di belakang kalau tidak dibersihkan maka makanan mudah menyelip di sana dan itu tidak terlihat. Nanti bisa menyebabkan lubang pada gigi, dan kalau misalnya lubang itu tidak bisa direstorasi seperti penambalan maka harus dicabut. Orang Indonesia juga kebanyakan ke dokter gigi kalau giginya sudah sakit. Kalau sudah gitu kan berarti sudah parah, sudah kena ke saraf dan mau tak mau harus dicabut,” sambungnya.

Kesadaran masyarakat untuk melakukan perawatan gigi yang rendah inilah yang menjadi pemicu tingginya kasus pencabutan gigi di Indonesia. Untuk itulah Nisa bersama keempat rekannya, Effendi Halim, Mirna Aulia, Claudia Twistasari, dan Bayu Anggoro Aji berupaya menciptakan Spidweb Gel, obat berupa gel yang terbuat dari ekstrak jaring laba-laba dan diklaim dapat mempercepat penyembuhan luka bekas cabut gigi.

Memangnya kenapa harus dipercepat? Salah satu anggota tim, Mirna menuturkan, proses penyembuhan luka untuk cabut gigi itu sebetulnya akan terjadi secara alami. Akan tetapi pada kasus-kasus tertentu, proses ini perlu dipercepat. Semisal pada pasien diabetes. Seringkali agar bisa dicabut giginya, pasien harus menunggu sampai kadar gulanya turun baru bisa dicabut. Belum lagi pada proses pemulihan setelah operasi. Apalagi luka pada pasien diabetes memang sulit sembuh.

“Luka yang lama sembuh itu kan risiko infeksinya juga makin besar. Jadi apabila sembuhnya luka bisa dipercepat itu akan lebih baik. Tapi untuk bisa dipakai pasien diabetes, masih butuh penelitian yang lebih lanjut,” terangnya.

Sang pembimbing, drg Alma Linggar Jonarta, M.Kes. menambahkan orang yang berkeinginan menggunakan kawat gigi juga memerlukan proses penyembuhan luka cabut gigi yang lebih cepat.

“Atau orang yang mau pake gigi palsu, itu juga harus dicabuti sisa akar giginya, ya mungkin suatu saat gel ini bisa membantu mempercepat itu. Apalagi sampai sekarang belum ada solusi cabut gigi bagi pasien diabetes selain menunggu gula darahnya turun. Ya ada obat tapi penyembuhannya bisa lebih lama,” katanya.

Setidaknya sang ketua tim, Effendi mengatakan gel ini berbeda karena terbuat dari bahan alami. Selain itu Effendi yakin gel ini bisa diterapkan pada manusia karena zat-zat yang terkandung dalam gel, seperti vitamin K dan protein asam nukleat sifatnya biokompatibel, tidak beracun, serta mudah berikatan dengan sel-sel tubuh namun aman untuk digunakan pada tubuh mahkluk hidup lainnya, termasuk manusia.

Sementara ini Spidweb Gel baru terbukti efektif mempercepat proses penyembuhan luka bekas pencabutan gigi pada marmut. Berkat gel dari jaring laba-laba ini, tim Effendi dkk pun lolos menuju Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) 2014 yang akan digelar di Universitas Diponegoro Semarang pada 25-28 Agustus mendatang.

“Ke depan, gel ini juga bisa jadi obat sariawan yang dijual untuk umum. Atau dengan sedikit modifikasi bisa untuk profesional medic dalam mempercepat penyembuhan luka cabut gigi atau habis operasi, dan untuk mempercepat regenerasi penyembuhan jaringan lunak,” tutup drg Alma.


Bagikan artikel ini

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca juga artikel ini . . . .close