Gula Vs Gigi Berlubang

Bagikan artikel ini

Hobi menyantap makanan dan minuman manis mengancam kesehatan gigi? Jangan khawatir, dengan trik berikut, Anda tetap bisa menikmati gula sekaligus memiliki gigi yang sehat.

Membatasi konsumsi gula memang tak mudah. Bagaimana tidak, hampir semua makanan khas Indonesia mengandung gula, mulai dari menu utama, seperti gudeg, hingga jajanan khas macam dodol atau bika ambon. Bahkan di beberapa suku berlaku aturan menghidangkan minuman manis bagi tamu merupakan tanda kesejahteraan tuan rumah.

Berdasarkan data dari Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia, jumlah konsumsi gula nasional di Indonesia tahun 2002 tercatat 3,3 juta ton. Pada tahun-tahun berikutnya tingkat konsumsinya terus naik dengan laju 4,2 persen per tahun dan di tahun 2009 diperkirakan mencapai 4,85 juta ton.

Tak heran bila karies gigi (gigi berlubang) diderita oleh 90,5 persen penduduk Indonesia. Penyakit gigi dan mulut juga menempati urutan tertinggi keenam dalam penyakit yang dikeluhkan masyarakat, berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 2001.

Ancaman gigi berlubang memang selalu mengintai para penggemar makanan manis. Menurut drg Tri Erri Astoeti, MKes, dari seluruh jenis gula, sukrosa (gula pasir dan pemanis untuk cokelat, permen, dan kue) adalah yang paling berbahaya. “Sukrosa adalah golongan glukosa yang paling cepat diubah menjadi asam oleh mikroba di mulut yaitu streptococcus mutans,” katanya.

Sekitar dua menit setelah gula masuk ke dalam plak gigi, streptococcus mutans akan memproduksi asam yang bisa menurunkan kadar mineral dalam gigi. “Setelah makan makanan manis, kuman tadi akan memproduksi materi yang lengket di gigi yang disebut glucan. Proses ini dapat merusak email pelindung gigi,” jelas drg Erri.

Normalnya, kadar keasaman di mulut adalah 7. Namun, konsumsi gula yang berulang kali seperti pada pencandu makanan dan minuman manis dapat membuat pH berada di bawah 5,7 yang merupakan kondisi kritis untuk kerusakan gigi.

Kalau semua menu dan camilan di sekitar kita mengandung gula, mungkinkah menghindari ancaman gigi berlubang? “Bila kita rajin menyikat gigi setelah menyantap makanan manis, karies gigi dapat dicegah,” kata Erri.

Menurut dia, menyikat gigi setelah makan berguna untuk mengganti mineral yang lepas akibat gula yang menempel di gigi. “Gunakan pasta gigi yang mengandung fluoride karena sudah terbukti bagus untuk mengembalikan mineral. Bila tak sempat sikat gigi, minimal berkumur dulu dengan air putih,” ulasnya.

Menyikat gigi pun sedikitnya dilakukan dua kali sehari, yakni setelah makan dan sebelum tidur. “Sikat seluruh bagian gigi, termasuk gusi dan lidah karena saliva sering menggenang,” paparnya.

Agar gigi selalu kuat, konsumsi bahan makanan yang tinggi kalsium, seperti susu, keju, atau yoghurt, dan makanan yang mengandung fluoride, seperti ikan asin, rebusan tulang ayam, dan teh. “Tapi minum tehnya tanpa gula,” cetus Erri.

Gigi yang telah berlubang sebaiknya segera ditambal. Bila dibiarkan proses pelubangan akan terus berjalan, hingga kuman sampai ke bagian saraf dan pembuluh darah di pangkal gigi atau gusi. Hal ini menyebabkan peradangan sehingga kita merasakan nyeri.

Melalui pembuluh darah, kuman yang bersarang di lubang gigi atau gusi dapat menyebar ke seluruh tubuh dan berkembang biak di organ tubuh lain, seperti mata, ginjal, dan jantung. Maka, sakit gigi bisa menimbulkan keluhan lain, seperti pusing, pegal di leher dan punggung, rasa sakit di mata, atau terganggunya pendengaran.


Bagikan artikel ini

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca juga artikel ini . . . .close