72 Persen Masyarakat Pernah Sakit gigi

Bagikan artikel ini

Dekan Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Sumatera Utara (USU), Prof Ismet Daniel Nasution, mengatakan sekitar 72 persen penduduk Indonesia mempunyai pengalaman karies (gigi berlubang) dan 46,5 diantaranya merupakan karies aktif yang belum dirawat.

“Ini diperoleh dari data terbaru yang dikeluarkan Departemen Kesehatan dari riskesdas (riset kesehatan dasar) tahun 2007, dan pada umumnya diderita anak-anak,” katanya di Medan, Rabu.

Menurut dia, penyebab tingginya prevalensi penyakit gigi dan mulut pada umumnya karena faktor perilaku dan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang belum merata.

“Dalam hal kebiasaan menggosok gigi, sebanyak 91 persen penduduk usia 10 tahun ke atas telah melakukannya setiap hari, namun hanya tujuh persen yang menggosok gigi dua kali di waktu yang benar, yaitu sesudah makan pagi dan sebelum tidur malam,” katanya.

Melihat masih banyaknya penyakit gigi dan mulut yang diderita masyarakat, terutama di daerah-daerah pedesaan, pihaknya telah melakukan kerja sama dengan PT Unilever dalam program desa binaan di Desa Ujung Rambung, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumut.

Kegiatan yang dilakukan di desa binaan itu meliputi penyuluhan dan edukasi kesehatan gigi dan mulut minimal sebulan sekali sepanjang tahun, pelayanan kesehatan gigi dan mulut serta penelitian-penelitian untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut masyarakat.

Program itu ditujukan untuk mendorong dan memotivasi masyarakat agar menjaga dan meningkatkan kesehatan gigi dan mulut melalui pendidikan kesehatan yang berkesinambungan serta meningkatkan pengetahuan terutama bagaimana pemeliharaan dan pencegahan penyakit gigi dan mulut.

Tentang pemilihan Desa Ujung Rambung sebagai desa binaan, ia mengatakan didasarkan kondisi desa yang sangat minim akan fasilitas kesehatan, misalnya puskesmas yang terletak di ibukota kecamatan yang jaraknya lima kilometer dari desa.

Jumlah anak-anak di desa itu yang sekitar sepertiga dari total jumlah penduduk desa juga merupakan salah satu pertimbangan dijadikannya desa itu sebagai desa binaan.

“Hal ini karena anak-anak merupakan usia yang rentan mengalami gangguan kesehatan gigi dan mulut. Pendidikan kesehatan gigi dan mulut yang ditanamkan sejak usia dini diharapkan akan terbawa sampai mereka dewasa nanti,” katanya.


Bagikan artikel ini

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *