Susah Makan dan Ngomong, Deretan ‘Efek Samping’ dari Gigi Tonggos

Gigi rahang atas yang maju ke depan atau biasa disebut tonggos bagi sebagian orang mungkin hanya menjadi masalah estetika saja. Tapi menurut para dokter sebenarnya gigi tonggos tidak hanya menjadi masalah estetika saja tapi juga mempunyai keterkaitan pada beberapa masalah kesehatan.

Dosen dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Indonesia (UI), Prof drg Armasastra Bahar, PhD, mengatakan tergantung dari tingkat keparahannya, gigi tonggos bisa membuat seseorang mengalami gangguan pencernaan. Hal ini dikarenakan gigi yang tidak sempurna membuat makanan tidak terkunyah dengan baik sehingga nutrisinya sulit untuk diserap tubuh.

“Gigi yang tidak mengunyah makanan dengan baik sehingga berakibat pada pencernaan, karena gangguan fungsi pencernaan itu bisa menyebabkan kekurangan gizi,” kata drg Arma kepada detikHealth dan ditulis pada Rabu (12/9/2014).

Hal yang sama juga dikatakan oleh Prof drg Heriandi Sutadi, SpKGA(K), dari RS Pondok Indah Jakarta Selatan. Menurutnya gigi tonggos membuat seseorang lebih cepat menelan makanan yang sekali lagi dapat berujung pada gangguan pencernaan.

“Pengunyahan yang tidak baik, misalnya anak jadi lebih cepat menelan makanan padahal kan seharusnya makanan yang dapat dicerna usus dan pankreas harus halus. Kalau tidak halus maka beban pada pankreas dan ususnya menjadi lebih berat dan jadi sulit diserap tubuh,” ujar drg Heriandi yang juga merupakan guru besar FKG UI.

Selain itu, drg Heriandi menambahkan gigi tonggos bisa menyebabkan masalah lain seperti gangguan bicara akibat pelafalan yang tidak sempurna dan masalah psikososial seperti rasa rendah diri akibat bentuk wajah yang tidak sempurna.

Untuk mengatasi gigi tonggos bisa dilakukan berbagai cara secara medis seperti salah satunya memasang kawat gigi. Namun, drg Arma mengingatkan untuk tidak menanganinya secara sembarangan dengan pergi menemui ahli gigi untuk memasang kawat karena sebenarnya bisa saja tindakan yang diperlukan lain.

“Cara menanganinya tergantung kasusnya, karena tidak bisa menggeneralisir semua kasusnya, tergantung diagnosa dan cara penanganannya. Yang terpenting jangan melakukan perbaikan gigi atau memasang kawat gigi di tukang gigi, kawatnya itu entah diapa-apain tukang gigi. Seharusnya kasus-kasus yang spesialistis ditangani oleh dokter spesialis ortodonti,” tutup drg Arman.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *