Gigi Geraham Bolong dan Pecah, Haruskah Dicabut?

Beberapa orang takut pergi ke dokter gigi. Meskipun gigi sudah bolong masih juga ‘disayang-sayang’. Alhasil bolong di gigi bertambah lebar dan dalam, lalu gigi pun pecah. Separuh gigi yang pecah lantas goyah, namun separuh lainnya masih melekat kuat di gusi. Saat kondisi ini terjadi, haruskah gigi dicabut?
“Gigi itu kalau sudah rusak, bolong, itu fokus infeksi. Hati-hati infeksi di sekitar gigi bisa menyebar ke organ yang lain. Karena bakteri bisa masuk melalui pembuluh darah. Kalau menurut saya, kalau sudah seperti itu harus dicabut,” terang Prof Heriandi Sutadi, drg, SpKGA (K), PhD, guru besar FKG dan FIK UI, dalam perbincangan dengan detikHealth dan ditulis pada Selasa (7/4/2015).

Jika sisa akar gigi masih tertanam di gusi, maka perlu operasi kecil untuk mencabutnya. Tapi jangan bergidik ngeri dulu, karena prosedur ini tentu akan melibatkan anestesi agar pasien tidak merasa sakit saat gigi dicabut.

“Kalau gigi tetap sudah otek-otek (goyah) maka sebelum pencabutan diberi anestesi topikal. Kalau masih agak dalam akarnya, maka harus menggunakan anestesi yang penyuntikan, karena yang topikal sudah tidak mempan,” lanjut Prof Heriandi.

“Penyuntikan juga ada caranya masing-masing, yang jelas suntikan itu untuk menghilangkan rasa sakit dan mengurangi pendarahan. Jarum juga harus steril untuk meminimalkan infeksi,” imbuhnya.

Pada beberapa kasus, tambah Prof Heriandi, gigi bolong bisa mengalami pembusukan. Tandanya gigi pernah sangat sakit, setelah itu menghilang karena gigi mengalami kematian. Tanda gigi sudah mati adalah warnanya menjadi lebih gelap jika dibanding gigi lainnya. Warnanya berubah lantaran sel-sel pembuluh darah yang mati.

Umumnya gigi yang mati akan dicabut. Namun bisa juga dirawat tanpa perlu dicabut. Karena dengan perawatan yang dilakukan dokter gigi, maka gigi mati masih bisa berfungsi seperti gigi sehat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *